Manokwari, TP – Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak setelah jumlah kasus mencapai 74 kasus sejak awal 2026 hingga September dan tersebar di delapan puskesmas.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari, Alexander Takdare, mengatakan penetapan KLB dilakukan setelah peningkatan kasus memenuhi ketentuan, yakni apabila dalam empat minggu berturut-turut ditemukan sedikitnya lima kasus.
“Kasus campak dari bulan Januari sampai minggu ke-36 sementara meningkat. Kita punya kasus campak ini sebanyak 74 kasus yang tersebar di delapan puskesmas,” kata Alexander, Senin (5/10/2026).
Ia menjelaskan, pada minggu ke-34 hingga minggu ke-36 tercatat 20 kasus campak. Jumlah tersebut telah memenuhi persyaratan untuk menetapkan status KLB sehingga penanganan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.
“Dalam artian ini bukan hal yang negatif, melainkan agar penanganan terintegrasi,” ujarnya.
Sebagai langkah penanggulangan, Dinkes Manokwari melaksanakan imunisasi campak-rubela secara serentak mulai 5 hingga 14 Oktober 2026. Sasaran imunisasi yakni anak usia 9 bulan sampai dengan di bawah 5 tahun.
Pelaksanaan imunisasi dilakukan secara massal di wilayah kerja puskesmas maupun distrik. Dinkes Manokwari juga melibatkan pemerintah distrik, kelurahan, RT/RW serta pemangku kepentingan lainnya untuk menjangkau anak-anak yang menjadi sasaran.
Pemberian imunisasi juga menyasar anak-anak di lingkungan pendidikan. Di TK Negeri Pembina Manokwari, sebanyak 50 siswa menjadi sasaran imunisasi campak sebagai bagian dari upaya meningkatkan kekebalan anak terhadap penyakit tersebut.
Alexander mengatakan peningkatan kasus campak tidak hanya terjadi di Kabupaten Manokwari, tetapi juga ditemukan di sejumlah daerah lain di Papua Barat, di antaranya Teluk Wondama dan Fakfak.
“Kita sementara penanganan untuk kasus campak ini kita bergerak secara serempak, kita dibantu oleh Dinkes Provinsi Papua Barat, sehingga kita sama-sama sementara berjalan,” katanya.
Dalam pelaksanaan imunisasi, Dinkes Manokwari masih menemukan adanya penolakan dari sebagian warga. Menurut Alexander, petugas di lapangan melakukan sosialisasi dengan melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memberikan pemahaman kepada warga.
Pelibatan tokoh agama dan masyarakat diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya imunisasi campak-rubela, terutama dalam meningkatkan kekebalan tubuh anak.
“Kita juga berharap masyarakat ini jangan ada lagi penolakan karena ini untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak, dimana kita sedang mempersiapkan generasi emas 2045,” ujarnya.
Alexander menilai penolakan terhadap imunisasi perlu diminimalkan karena dapat menghambat upaya meningkatkan kekebalan anak. Ia berharap masyarakat dapat mendukung pelaksanaan imunisasi yang dilakukan pemerintah.
“Kalaupun ada penolakan ini sangat disayangkan generasi ke depannya dengan kekebalan yang minim sehingga kita harapkan jangan lagi ada penolakan untuk dilakukan imunisasi,” katanya. [SDR-R2]










