Manokwari, TP – Puluhan warga di Kompleks Perumahan Sowi Gunung (Sogun) Permai RT 003 dan RT 004 mendapat pembekalan bagaimana mengendalikan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
Pembekalan diberikan bersamaan dengan pertemuan pengendalian DBD Kabupaten Manokwari 2023 untuk pengelolaan pelayanan kesehatan bagi penduduk terdampak krisis kesehatan akibat bencana dan atau berpotensi bencana, yang dilaksanakan di Pos Kamling RT 003 kompleks Sogun Permai, Jumat (12/1/2024).
Pembekalan disampaikan petugas dari Puskesmas Sowi, Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari dan Provinsi Papua Barat, serta kader DBD.
“Kita kumpul di sini untuk bersama-sama belajar bagaimana mengatasi demam berdarah,” kata Kepala Puskesmas Sowi, Gerda Boseren membuka pertemuan.
Ia mengungkapkan, tahun 2023 terdapat dua kasus DBD di Kompleks Perumahan Sogun Permai. Sehingga, kompleks perumahan tersebut menjadi fokus pihaknya dalam rangka pengendalian dan pemberantasan.

“Tahun lalu di sini ada dua kasus. Itu sudah ditangani Puskesmas Sowi dengan dilakukan fogging dan tahun ini kita mulai action jangan sampai ada lagi bahkan meningkat,” ungkap Boseren.
Ia berharap, semua warga di perumahan tersebut terlibat aktif ikut mengendalikan DBD sesuai teknis yang diberikan oleh petugas agar tidak terdapat kasus lagi di tahun 2024 ini.
“Kita berdoa mudah-mudahan tidak ada kasus yang terjadi setelah kegiatan ini,” tandasnya.
Diikuti Tabura Pos, dalam pertemuan ini, warga diberikan pembekalan dan pengetahuan tentang ciri-ciri gejala seseorang terkena DBD baik anak-anak maupun orang dewasa.
Gejala pada anak sepertinya, panas tinggi 38 derajat celcius, terdapat bintik-bintik merah, pendarahan seperti mimisan, BAB berwarna hitam, muntah dan tidak buang air kecil lebih dari enam jam, lemah letih lesu, ingin terus tidur serta perubahan perilaku.
Sementara, gejala untuk orang dewasa, seperti merasakan nyeri disemua persendian. Khusus untuk wanita menstruasi yang belebihan. Selain itu, warga juga diajak menjadi Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di rumahnya masing-masing.
Pengelola Program Program DBD Dinkes Papua Barat, Zul E. Hasanudin menerangkan, dalam pencegahan DBD lebih efektif membunuh jentiknya daripada sudah menjadi nyamuk.

“Lebih mudah membasmi jentik daripada nyamuk, kalau jentik gampang dilihat digenangan air, sedangkan kalau sudah menjadi nyamuk susah, karena sudah terbang,” jelasnya.
Cara membasmi jentik, dengan melakukan praktek 3 M plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, dan mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes Aegypti yang membawa virus DBD pada manusia, satu Minggu sekali.
Warga juga diberikan kartu pemeriksaan jentik rumah yang digunakan untuk mencatat hasil pembasmian jentik nyamuk di rumahnya masing-masing.
Selain materi, warga juga diajak melakukan simulasi mencari jentik nyamuk di beberapa rumah yang terdapat genangan air. Warga antusias mengikuti pertemuan sampai simulasi yang dilakukan. [SDR-R3]




















