Manokwari, TP – Para orangtua yang mendampingi anaknya untuk mendaftarkan diri dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026-2027, sempat menutup pintu gerbang SMA Negeri (SMAN) 1 Manokwari, Reremi, Senin (6/7/2026).
Lantaran tidak berhasil mengikuti SPMB, para orangtua meminta pihak sekolah menerima anak-anaknya, karena merasa ada kecurangan dalam proses pendaftaran secara online yang diterapkan panitia.
Akhirnya, para orangtua yang mendampingi anak-anaknya ditemui Plt. Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Manokwari, Pardjiyanti, Kepala SMAN 1
Manokwari, Lucinda P. Mandobar, Kepala Bidang SMA dan SMK Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari, Ricky D. Risamasu, Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Papua Barat, Yustus Awoitauw, dan Ketua Komite, Aljabar Makatita, difasilitasi Kasat Intelkam Polresta Manokwari.
Riska, salah satu orangtua calon siswa, meminta ada kebijakan dari pihak sekolah untuk menerima anaknya dan anak-anak yang datang ini. Anak-anak yang berjumlah 62 orang ini mempunyai kerinduan untuk melanjutkan Pendidikan di SMAN 1 Manokwari.
“Mungkin kalau tahun lalu ada kebijakan, kami harap tahun ini juga ada kebijakan agar anak-anak kami yang sudah berusaha bisa diterima. Kami siap membayar sendiri baju seragam,” kata dia.
Menurutnya, anak-anak yang datang ini Adalah anak-anak yang secara online sudah mendaftar, bukan baru mau mengikuti pendaftaran.
“Di pengumuman pendaftaran secara online mulai pukul 07.00 WIT, kita orangtua sudah duduk di depan laptop, tetapi tidak bisa masuk. Baru lima menit web terbuka, ada keterangan pendaftaran sudah ditutup. Secara nilai dan domisili, anak saya memenuhi syarat, tetapi tidak diterima,” ungkap orangtua calon siswa lain.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SMAN 1 Manokwari, Lucinda Mandobar mengatakan, pendaftaran secara online ditutup karena kuota sebanyak 432 orang, sudah penuh.
“Tahun ajaran baru ini, kami SMAN 1 Manokwari menerima 432 siswa baru dan yang mendaftar 1.203 orang. Dengan zona jalur penerimaan SMAN 1 Manokwari yang luas, sehingga tidak bisa diterima semua,” katanya.
Ia merincikan, 432 siswa yang diterima sudah sesuai ketentuan dan persyaratan, yakni 70 persen orang asli Papua (OAP) dan 30 persen non-OAP. Dari kuota tersebut dipecah lagi sesuai domisili, yakni OAP sebanyak 91 orang dan non-OAP sebanyak 39 orang.
Dari jalur prestasi, ungkapnya, ada 91 calon siswa OAP dan 39 calon siswa non-OAP yang diterima, sedangkan jalur afirmasi OAP sebanyak 91 orang dan non-OAP sebanyak 39 orang.
Kemudian, jalur pindah orangtua OAP sebanyak 24 orang dan non-OAP sebanyak 13 orang. Selain persentase jalur dan kuota, penerimaan di SMAN 1 Manokwari juga menerapkan rekapan nilai, sehingga total ada 432 anak yang diterima sesuai persyaratan dan ketentuan.
Lucinda Mandobar menegaskan, pihaknya sudah tidak bisa lagi mengambil kebijakan menerima lebih dari kuota yang ditentukan, karena sekarang kelas rombongan belajar (rombel) sudah 41 rombel, dari ketentuan 36 rombel.
“Kalau dipaksakan diterima, nanti anak-anak yang diterima di luar kuota 432 orang, tidak terdaftar dalam Daftar Pokok Pendidikan (Dapodik) di kementerian dan sekolah menjadi merah,” terang Kepala SMAN 1 Manokwari.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari, Pardjiyanti mengatakan, jika dipaksakan untuk diterima di luar kuota, maka 62 anak tersebut tidak bisa didaftarkan ke dalam Dapodik di Kementerian Pendidikan dan itu akan merugikan anak-anak itu sendiri.
Solusinya, saran Pardjiyanti, para orangtua bisa mendaftarkan anak-anaknya di SMAN 4 Manokwari. Dijelaskannya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manokwari sudah mendirikan SMAN 4 untuk menjawab persoalan membludaknya calon siswa.
Ia menambahkan, system pembelajaran di SMAN 4 Manokwari juga sudah menerapkan system kolaborasi dengan SMAN 1 Manokwari.
“Di SMA Negeri 4 Manokwari juga dapat pendidikan gratis dan sistem pembelajaran kolaborasi. Memang hanya saja sarana dan prasarana masih meminjam SMP Negeri 27 Marina,” ungkapnya.
Dari pantauan Tabura Pos, para orangtua calon siswa baru yang berjumlah 62 orang tersebut bersikukuh anaknya diterima di SMAN 1 Manokwari.
Hingga pertemuan berakhir, belum ada kepastian terkait status mereka, sedangkan pihak SMAN 1 Manokwari belum memutuskan apakah menerima atau tidak anak-anak tersebut.
Pihak Dinas Pendidikan akan berkoordinasi dengan kementerian, apakah penerimaan ini bisa dilakukan dengan kuota yang sudah terpenuhi, sedangkan para orangtua siswa berencana akan menemui Bupati Manokwari, Hermus Indou. [SDR-R1]




















